Senin, 21 Oktober 2013

Keromantisan*

."Jangan terbuai dengan keromantisan yang dibingkai dengan Kalimat-kalimat GOMBAL,dengan sepotong coklat, sepucuk mawar,sehingga membuatmu terbuai dan melayang-melayang oleh Rayuannya, Karena sesungguhnya Akhlak yang baik dan mulia adalah buktik Keromantisan yang sesungguhnya.


   -Popi Laya-

Jumat, 18 Oktober 2013

Tujuan

Jika kita tidak punya Tujuan, Kita tidak akan sampai kemana-mana!
kalaupun sampai maka ketempat yang tidak Kita Impikan.

-Popi Laya-

Sabtu, 12 Oktober 2013

Setiap Kemenangan Butuh Kesabaran*


Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran… “Ayah, ayah” kata sang anak…
“Ada apa?” tanya sang ayah…..
“Aku capek, sangat capek … aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…aku mau menyontek saja! aku capek. sangat capek…
Aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! … aku capkl, sangat capek …
Aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung…aku ingin jajan terus! …
Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…
Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…
Aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah…!” sang anak mulai menangis… :’(
Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata, “anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”
Lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang… lalu sang anak pun mulai mengeluh, “ayah mau kemana kita??? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah…” sang ayah hanya diam.
Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…
“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini..?” tanya anaknya. Sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
“Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah…?” tanya anaknya kembali.
“Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”
“Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu” jawab ayahnya.
“Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”
“Nah, akhirnya kau mengerti”
“Mengerti apa? aku tidak mengerti”
“Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”
“Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar”
“Ayah tahu, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi… ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri… maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri… seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya… maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang… maka kau tau akhirnya kan?”
“Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini … sekarang aku mengerti … terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar.”
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.



UKHTI TUNGGU AKU

Di Sebuah kamar Kost-kostan, Seorang Akhwat Bernama Nia sedang sibuk di Depan Laptopnya. Dia sedang Mengerjakan Tugas Kuliah sambil Mendengarkan Nasyid yang berjudul "Nantikanku di Batas Waktu". Tiba-tiba terdengar SMS dari HP nya. begitu dilihat.....WOWWWWWW !!! sangat Mengejutkan. Isi SMS tersebut adalah "Assalaamu'alaikum. Ukhti...Tunggu aku...". ternyata si pengirim SMS tersebut adalah seorang Ikhwan Teman Kuliahnya yang bernama Imam. Langsung SMS tersebut dibalas


Nia : Tunggu ?? Maksudnya ??
Imam : Iya Tunggu. Ana gak bisa jelasin Sekarang. belum Waktunya.
Nia : ????????
Imam : Kenapa Ukhti ???
Nia : Ooo..Gapapa..ya udah Ana tunggu kabar dari Antum....

Isi SMS itu membuat Nia GALAW Berhari-hari. ia bingung. apa maksud dari Kata "Tunggu". Apakah si Ikhwan bermaksud untuk datang "Menjemput" ? 

Pada Suatu hari, Si Nia ada di Kampus. ia berjalan menuju ruang Kuliah bersama dua orang Akhwat Temannya sambil memegang sejumlah buku besar di tanggannya. waktu menaiki Tangga, tak sengaja ia Menabrak seorang Lelaki, dan Buku-bukunya pun terjatuh. Spontan si lelaki tersebut meminta maaf dan mengambil buku-buku itu dan menyerahkannya ke Nia. dan ternyata....WOWWWW...Si Lelaki itu adalah Ikhwan si Pengirim SMS. Mata Nia pun langsung berkaca-kaca. jatuhlah air mata di pipinya yang kemerah-merahan. tak henti-hentinya ia memandangi si Ikhwan. tiba-tiba temannya menepuk punggungnya dan berkata "Woy !!! Kenapa Lo ? cie..cie..." si Nia dan si Ikhwan pun tersipu Malu. tanpa pikir panjang, si Nia bertanya kepada sang Ikhwan...

Nia : Akhi....Kalo boleh ana bertanya...apa maksud dari kata "Tunggu" itu ??
Imam : Emmmmm...emmmmmmm....(Bingung)
Nia : Kenapa Akhi ? bilang saja terus terang....
Imam : Belum saatnya ukhti...Ana belum Siap Sekarang....
Nia : Belum siap Apanya ?? (Makin berkaca-kaca matanya)
Imam : Belum Siap Ukhti. tapi Niatnya udah ada...
Nia : Niat untuk Apaaaaa ?? (Semakin merah Mukanya)
Imam : Emmm....Niat untuk.....
Nia : Untuk Apaaaaaaa ? (Nyaris Pingsan)

SUASANA HENING...............TIBA-TIBA SI IKHWAN MENJAWAB....

Imam : Untuk Bayar Uang Kas LDK. Ane udah ada niat untuk Bayar, tapi duitnya belum di Transfer papah. makanya ane suruh Ukhti Tunggu. Insya Allah Ahad Depan ane Bayar. Tunggu ana Ya Ukhti.....

Nia : (PINGSAN BENERAN)
----------------------------
GUBRAAAAAAAAAKKKKK........



IPL: Lucu ya..! he ada yang ketawa ketiwi #Humor

Pengorbanan Adik Untuk Kakak

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri uang dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara.
Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi- tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!” Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!” Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun.
Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.” Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat,tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama,saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik… hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap airmatanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang.
Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!” Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?” Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku.
Aku menyapu debu- debu dari adikku semuanya, dan tersekat- sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…” Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana- mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..” Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku.
Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu- batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26. Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.” Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.
Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?” Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?” Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggamtanganku.
Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa berpikir ia menjawab, “Kakakku.” Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku.Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.” Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Semoga Cerita Kisah Nyata yang inspiratif dan Mengharukan di atas dapat kita ambil hikmah dan pelajaran yang terkandung di dalamnya. Terima kasih

IPL_PengorbananAdikUntukKaka*


GUBUK YANG TERBAKAR

Angin, Badai menerjang sebuah kapal di lautan samudra lepas, sehingga kapal  jatuh dan tenggelam! sehingga sebagain penumpang ada yang  mati tenggelam dan sebagain hidup. Diantara mereka ada terombang-ambing oleh derasnya ombak lautan sehingga terlempar di tempi pantai. Di sebuah pulai kecil dan asing. Ketika pemuda mulai siuaman ia mencoba menghirup udara segar seraya Berdoa memohon pertolongan kepada Allah swt. Tapi tidak lama dia pingsan lagi!


Besok harinya  pemuda ini terbangun, dia baru sadar kalau dia berada sebuah pulau kecil dan asing. Akhirnya dia membangun gubuk kecil untuk tempat tinggalnya, setiap harinya dia hanya memakan buah-buahan dan minum air sungai.

Suatu hari dia memanggang kelinci tanggapannya di dekat gubuk, begitu girangnya dia? Sangking girangnya dia, ia mencoba jalan-jalan ke tepi pantai sambil bersiul siul, seraya dalam hati mudah-mudahan ada yang bisa saya tanggap dan saya makan lagi. Ketika dia kembali kegubuk alangkah terkejutnya dia melihat GUBUk-nya terbakar, oleh panggangan kancilnya.

Lalu dia bertriak Ya Tuhan mengapa semua ini terjadi, kemaren engkau campakan aku di pulau ini engkau asingkan aku dengan orang lain, engkau pisahkan aku dengan keluargaku? TAPI kenapa…. Engkau hari ini membiarkan GUBUKku terbakar..! ada apa tuhan, ada apa..?
Pemuda ini, lemas dan sedih serta menahan lapar membuatnya dia sampai tidur pulas sampai besok pagi. Ketika dia bangun begitu terkejutnya dia melihat ada kapal di tepi pantai, dan ada orang menurunkan kapal kecil untuk menolongnya.
Pemuda ini bergegas manghampiri kapal itu, ketika pemuda ini naik  kapal dia bertanya kepada seseorang!
Bagaimana kalian bisa sampai disini kata pemuda itu? Lalu ada yang menjawab, “ Kami melihat Asap yang membumbung tinggi ke langit, sehingga kami tahu bahwa ada seseorang yang meminta Pertolongan!”
Subhanalah, coba kita renungkan kembali cerita ini!


IPL_Gubuk Yang Terbakar*  

Nenek-nenek Tua


"Setelah sholah Ashar pak Aryo Rapat dengan Ustadz Zul Armi dan Panitia Qurban lainnya, di ruangan TPA dekat Masjid Taqwa. 
sedang berlangsungnya Rapat Tiba-tiba ada Salam di balik Pintu Assalamulaikum, suara yang akan Tertati itu mengucapkan salam.
Sontak bapak-bapak panitia Qurba menjawab Salam itu, Pak ali keluar ruangan lalu pak ali melihat Nenek Tua Menggunakan Tongkat, Pak ali menyapa nenek itu .

Pak Ali : Ada yang bisa di bantuk Nek,..? maaf nek kalau mau mintak sumbangan jangan kesini!
kami sedang rapat panitia Qurban, kalau Nenek mau mintak Daging Qurban besok ketika hari Qurban kami antar kerumah nenek,
maaf nek di mana rumah nenek..?

Nenek : Maaf nak, nenek menganggung! nenek bukan mau mintak sumbangan!
Pak Ali : lalu mintak apa nek?
Nenek : Nenek juga tidak mau mintak daging Qurban, Justruk Nenek kesini ingin mendaftar, Alhamdulilah hasil tabungan nenek selama beberapa tahun cukup untuk membeli Kambing., Jadi nenek mau berqurban Nak!

Pak Ali : Terdiam malu dalam hati berkata ( selama ini aku hanya menjadi Panitia Qurban Belum pernah berqurban ) padahal pendapatkanku lebih di bandikan Nenek ini,

IPL_Qurban*