Jumat, 31 Desember 2010

Ikhwan GANTENG

Ikhwan GANTENG
Lantas bagaimanakah seharusnya ikhwan selaku partner da’wah akhwat? Setidaknya ada tujuh point yang patut kita jadikan catatan dan tanamkan dalam kaderisasi pembinaan ADK, yaitu GANTENG (Gesit, Atensi, No reason, Tanggap, Empati, Nahkoda, Gentle). Beberapa kisah tentang ikhwan yang tidak GANTENG, akan dipaparkan pula di bawah ini.
(G) Gesit dalam da’wah
Da’wah selalu berubah dan membutuhkan kegesitan atau gerak cepat dari para aktivisnya. Ada sebuah kisah tentang poin ini. Dua orang akhwat menyampaikan pesan kepada si fulan agar memanggil ikhwan B dari masjid untuk rapat mendesak. Sudah bisa ditebak…, tunggu punya tunggu…, ikhwan B tak kunjung keluar dari masjid. Para akhwat menjadi gemas dan menyampaikan pesan lagi agar si fulan memanggil ikhwan C saja. Mengapa? Karena ikhwan C ini memang dikenal gesit dalam berda’wah. Benar saja, tak sampai 30 detik, ikhwan C segera keluar dari masjid dan menemui para akhwat. Mobilitas yang tinggi.
(A) Atensi pada jundi
Perhatian di sini adalah perhatian ukhuwah secara umum. Contoh kisah bahwa ikhwan kurang dalam atensi adalah ketika ada rombongan ikhwan dan akhwat sedang melakukan perjalanan bersama dengan berjalan kaki. Para ikhwan berjalan di depan dengan tanpa melihat keadaan akhwat sedikitpun, hingga mereka menghilang di tikungan jalan. Para akhwat kelimpungan.., nih ikhwan pada kemana? “Duh.., ikhwan ngga’ liat-liat ke belakang apa ya?” Ternyata para ikhwan berjalan jauh di depan, meninggalkan para akhwat yang sudah kelelahan.
(N) No reason, demi menolong
Kerap kali, para akhwat meminta bantuan ikhwan karena ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh akhwat. Tidak banyak beralasan dalam menolong adalah poin ketiga yang harus dimiliki oleh aktivis. Contoh kisah kurangnya sifat menolong adalah saat ada acara buka puasa bersama anak yatim. Panitia sibuk mempersiapkannya. Untuk divisi akhwat, membantu antar departemen dan antar sie adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Para akhwat ini kemudian meminta tolong seorang ikhwan untuk memasang spanduk. “Afwan ya…, amanah ane di panitia kan cuma mindahin karpet ini…,” jawab sang ikhwan sambil berlalu begitu saja karena menganggap tugas itu bukanlah amanahnya.
(T) Tanggap dengan masalah
Permasalahan da’wah di lapangan semakin kompleks, sehingga membutuhkan aktivis yang tanggap dan bisa membaca situasi. Sebuah kisah, adanya muslimah yang akan murtad akibat kristenisasi di sebuah kampus. Aktivis akhwat yang mengetahui hal ini, menceritakannya pada seorang ikhwan yang ternyata adalah qiyadahnya. Sang ikhwan ini dengan tanggap segera merespon dan menghubungi ikhwan yang lainnya untuk melakukan tindakan pencegahan pemurtadan.
Kisah di atas, tentu contoh ikhwan yang tanggap. Lain halnya dengan kisah ini. Di sebuah perjalanan, para akhwat memiliki hajat untuk mengunjungi sebuah lokasi. Mereka kemudian menyampaikannya kepada ikhwan yang notabene adalah sang qiyadah. Sambil mengangguk-angguk, sang ikhwan menjawab, “Mmmm….” “Lho… terus gimana? Kok cuma “mmmmm”…” tanya para akhwat bingung. Sama sekali tidak ada reaksi dari sang ikhwan. “Aduh… gimana sih….” Para akhwat menjadi senewen.
(E) Empati
Merasakan apa yang dirasakan oleh jundi. Kegelisahan para akhwat ini seringkali tercermin dari wajah, dan lebih jelas lagi adalah dari kata-kata. Maka sebaiknya para ikhwan ini mampu menangkap kegelisahan jundi-jundinya dan segera memberikan solusi.
Contoh kisah tentang kurang empatinya ikhwan adalah dalam sebuah perjalanan luar kota dengan menaiki bis. Saat telah tiba di tempat, ikhwan-akhwat yang berjumlah lima belas orang ini segera turun dari bis. Dan bis itu melaju kembali. Para akhwat sesaat saling berpandangan karena baru menyadari bahwa mereka kekurangan satu personel akhwat, alias, tertinggal di bis! Sontak saja para akhwat ini dengan panik, berlari dan mengejar bis. Tetapi tidak demikian halnya dengan ikhwan, mereka hanya berdiri di tempat dan dengan tenang berkata, “Nanti juga balik lagi akhwatnya.”
(N) Nahkoda yang handal
Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Ia adalah nahkoda kapal. Lantas bagaimanakah bila sang nahkoda tak bergerak? Alkisah, tentang baru terbentuknya kepengurusan rohis. Tunggu punya tunggu…, hari berganti hari, minggu berganti minggu, ternyata para ikhwan yang notanebe adalah para ketua departemen, tak kunjung menghubungi akhwat. Akhirnya, karena sudah “gatal” ingin segera gerak cepat beraksi dalam da’wah, para akhwat berinisiatif untuk “menggedor” ikhwan, menghubungi dan menanyakan kapan akan diadakan rapat rutin koordinasi.
(G) Gentle
Bersikap jantan atau gentle, sudah seharusnya dimiliki oleh kaum Adam, apatah lagi aktivis. Tentu sebagai Jundullah (Tentara Allah) keberaniannya adalah di atas rata-rata manusia pada umumnya. Namun tidak tercermin demikian pada kisah ini. Sebuah kisah perjalanan rihlah. Rombongan ikhwan dan akhwat ada dalam satu bis. Ikhwan di depan dan akhwat di belakang. Beberapa akhwat sudah setengah mengantuk dalam perjalanan. Tiba-tiba bis berhenti dan mengeluarkan asap. Para ikhwan segera berhamburan keluar dari bis. Tinggallah para akhwat di dalam bis yang kelimpungan. “Ada apa nih?” tanya para akhwat. Saat para akhwat menyadari adanya asap, barulah mereka ikut berhamburan keluar. “Kok ikhwan ninggalin gitu aja…” ujar seorang akhwat dengan kecewa.
Penutup
Fenomena ketidak-GANTENG-an ikhwan ini, akan dapat berpengaruh pada kinerja da’wah. Ikhwan dan akhwat adalah partner da’wah yang senantiasa harus saling berkoordinasi. Masing-masing ikhwan dan akhwat memang mempunyai kesibukannya sendiri, namun ikhwan dilebihkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sebagai pemimpin. Sehingga wajar saja bila yang dipimpin terkadang mengandalkan dan mengharapkan sang qawwam ini bisa jauh lebih gesit dalam berda’wah (G), perhatian kepada jundinya (A), tidak banyak alasan dalam menolong (N), tanggap dalam masalah (T), empati pada jundi (E), menjadi nahkoda yang handal (N) dan mampu memberikan perlindungan (G). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kaum laki-laki adalah pemimpin (qawwam) bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)…” (QS. An-Nisa’:34).
Kita harapkan, semoga semakin banyak lagi ikhwan-ikhwan GANTENG yang menjadi qiyadah sekaligus partner akhwat. Senantiasa berkoordinasi. Ukhuwah di dunia, dan di akhirat. Amiin. []

Rabu, 22 Desember 2010

Haramnya Muslim Terlibat Natal

 NATALPUN URUSAN UMAT ISLAM

Sekarang ini Natal bukan hanya urusannya umat Kristen tetapi telah menjadi urusan umat Islam pula. Kenapa ? Tidak banyak yang menyadari bahwa semakin mewabah dimana-mana umat Islam telah sengaja diprovokasi, dijebak dan dijerumuskan untuk terlibat dalam Natalan. Berikut adalah pernyataan mereka di Majalah Kristen Bahana, Januari 2008 “Gereja bertekad bahwa kebahagiaan Natal haruslah dirayakan dan dibagikan ke sesama, tanpa peduli agama, ras dan suku
Maka Istilah Natal bersama bukan lagi sekedar bermakna kebersamaan perayaan Natal antara umat Kristen Katolik dengan umat Kristen Protestan atau dengan umat Kristen dari aliran/ sekte yang lain, tetapi juga melibatkan umat Islam atau umat non Kristen lainnya.
Permasalahannya  adalah :
1.       Natal meskipun sepintas yang tampak adalah kebahagiaan, hakekatnya adalah  malapetaka akherat. Natal semarak dengan aneka dosa yang bisa mengundang murka Allah. Mau tahu sebabnya ? Baca tuntas tulisan ini.
2.     Aneka dosa yang melekat pada natal tentulah sudah disadari elite-elite Kristen. Gereja kalau memang komit pada kebenaran, kenapa justru menikmati dan terus menghidup-hidupkan natal ? membiarkan umatnya menangguk dosa ?
3.     Untuk apa Gereja bertekad (bernafsu) merayakan natal bersama umat agama lain (Islam dll) ? Apa mereka tidak tahu bahwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) pada tanggal 1 Jumadil Awal 1401 H bertepatan dengan 7 Maret 1981 di Jakarta telah mengeluarkan fatwa mengharamkan umat Islam mengikuti perayaan Natal dan menganjurkan untuk tidak terlibat natal ? Apa para Islamolog mereka tidak tahu kalau di Islam berlaku prinsip  Lakum diinukum waliyadiin (bagimu agamamu, bagiku agamaku) yang menyiratkan larangan bagi umat Islam untuk ikut mengamalkan syariat orang kafir / non Islam ? Atau justru tidak ingin kotor sendiri, gereja menarik umat Islam untuk  merasakan guyuran dosa natal bersama mereka ?
4.     Tekad atau lebih tepat disebut kenekadan Gereja bukankan suatu bentuk intoleransi , terorisme akidah, melecehkan prinsip agama Islam dan memprovokasi umat Islam yang justru akan memicu SARA ? Artinya siapa penabuh genderang perang ? Gereja atau umat Islam yang terpanggil berjuang membentengi akidah umatnya ?
BID’AH NATAL
Sudah jelas dan semua orangpun telah maklum bahwa natal bukanlah ajaran Islam, tidak ada petunjuk untuk melaksanakannya baik didalam Al Qur’an maupun As Sunah. Wajar kalau umat Islam banyak kurang paham tentangnya. 
Natal adalah ibadah yang paling sakral, paling populer bagi umat Kristen.  Natal sekaligus merupakan perayaan yang paling meriah yang dirayakan oleh mayoritas penduduk  dunia. Setiap tahun umat Kristen tidak pernah absen merayakannya dengan gegap gempita.
Tetapi sungguh ironis bin lucu, ternyata umat Kristen masih banyak yang  tidak tahu menahu, tidak paham bahwa natal itu tidak alkitabiah. Artinya natal  itu tidak relevan bahkan menyimpang dari isi Alkitab.
Mereka tidak menyadari bahwa tidak satu kata “natal” pun tercantum didalam Alkitab yang sering juga disebut Bible atau Injil.  Perayaan paling popular itu ironisnya sama sekali tidak dikenal di Alkitab yang manakala pergi ke gereja mereka selalu tak pernah lupa menentengnya dengan anggunnya. Padahal Alkitab yang mereka yakini sebagai Kitab Suci Firman Tuhan, semestinyalah menjadi acuan, pedoman umat Kristen dalam melakukan perkara apapun apalagi perkara sepenting natal. Dengan kata lain kalau memang natal itu perkara penting dimata Tuhan, tentulah Tuhan memfirmankannya. Lalu bagaimana mungkin gereja dan umat Kristen bisa mengabaikan fakta bahwa “natal” tidak tercantum di Alkitab ?  Untuk apa ada slogan Sola Scriptura ?natal bisa dipastikan bukan pep>
Tidak adanya kata “natal” di Alkitab mengarahkan kepada kesimpulan brintah Tuhan tetapi hanyalah perintah manusia.  Silahkan umat Kristen merenungkan di Alkitab Kitab Matius pasal 15 ayat 9 yang berbunyi “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." Logikanya kalau umat Kristen taat kepada yang mereka yakini sebagai Firman Tuhan, maka natal yang hanyalah perintah manusia sehingga percuma, haruslah sudah ditinggalkan mereka dulu-dulu.
Natal tidak mungkin sudah dikenal apalagi diajaran oleh “Tuhan” Yesus sewaktu masih hidup, Lebih mustahil lagi jika natal diajarkan oleh Yesus sesudah mati disalib seperti yang mereka yakini. Menurut sejarah, ritual natal memang tidak pernah dirayakan oleh murid-murid Yesus maupun penganut Kristen diabad-abad awal masehi. Natal baru ditradisikan oleh Paus Liberius di Roma sejak abad ke empat, tepatnya  tahun 336 Masehi.
Boleh dibilang ritual natal adalah sesuatu yang baru alias mengada-ada alias orang Kristen bilang bidat. Kalau dalam syariah Islam, ibadah dan perayaan / syiar agama yang mengada-ada, yang tidak ada tuntunannya dari Allah dan Rasul-Nya itu termasuk perkara bid’ah. Nabi Muhammad saw menyatakan bahwa setiap yang bid’ah  (mengada-ada) itu dhalalah /sesat (secara bahasa ada bid’ah hasanah tetapi secara syar’I tidak ada yang namanya bid’ah  hasanah) dan setiap yang sesat itu pastilah bermuara ke neraka.
Menurut isi Alkitab, Yesus selalu mengajarkan umatnya agar hanya mengikuti kehendak Bapa yaitu Allah di sorga yang mengutus Yesus. Kitab Matius  pasal 7 ayat 21 menyatakan : “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga”.  Kitab lain yaitu Yohanes  pasal 5 ayat 30 menyatakan : “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.
Bisa disimpulkan bahwa  ritual perayaan natal bagi umat  Kristen pastilah menyimpang dari kehendak Bapa , berarti juga mendurhakai Yesus yang mereka pertuhankan. Ajaran Yesus untuk selalu mengikuti kehendak Bapa, tidak digubris umat Kristen. Terbukti mereka tetap saja melaksanakan natal setiap tahunnya walaupun bukan kehendak Bapa alias hanya kehendak / ajaran manusia.
Selain tidak mengikutin kehendak Bapa, ritual natal yang tidak ada tuntunannya di Alkitab juga melanggar larangan yang ada di Alkitab untuk tidak menambah atau mengurangi apa yang tercantum di Kitab Suci.  Silahkan buka Alkitab Perjanjian Lama, Kitab Ulangan pasal 12 ayat 32 yang menyatakan : “Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya.” Maka pantaskah kalau natal disebut sebagai suatu bentuk kebaktian kepada Tuhan ? Bahkan melaksanakan natal sendiri adalah bentuk ketidak-taatan kepada kehendak Tuhan dan pelanggaran isi Alkitab yang notabene mereka yakini sebagai Firman Tuhan.
NATAL VS AL WALA’ WAL BARA’
Sangat disayangkan dikalangan umat Islampun banyak sekali yang belum kuat akidahnya. Tidak banyak paham tentang Kristen maupun natal sehingga salah sikap dalam merespon natal. Demi meraih simpati dan dukungan, Politikus : Cagub, Cawali, Cabup, Caleg, Pengurus Partai, ramai-ramai pasang spanduk “Selamat Natal”. Termakan jargon toleransi dan pluralisme, Pejabat dan Tokoh muslim rela jadi penggembira bahkan memberi sambutan dalam Natal . Demi pekerjaan, karyawan pusat perbelanjaan  rela didandani ala  badut sinterklas, Demi bingkisan natal, kaum dhuafa  rela jadi penggembira dan turut bersukacita dalam Natal. Demi bisnis, rumah makan; kantor; toko / ruang bisnis apapun disulap tuk menyemarakkan natal. Demi persahabatan, menjaga relasi, menunjukkan simpati, maka muslim gaul menebarkan : SMS, kartu ucapan dan parcel Natal.

Gambar di atas menunjukkan seorang muslimah berjilbab sowan kepada romo / pastur Katolik untuk berjabat tangan mengucapkan “Selamat Natal”, sebagai wujud kasih sayang, turut bergembira atas lahirnya “Tuhan” Yesus Kristus Sang Juru Selamat Penebus Dosa. Mungkin muslimah tersebut ingin memanfaatkan momentum perayaan natal untuk memperbaiki citra Islam yang selalu distigmatisasi bahwa Islam adalah identik dengan kekerasan dan terorisme. Mungkin juga ia ingin menunjukkan pada dunia bahwa Islam itu rahmatan lil alamin dengan arti seperti yang ia pahami, yaitu harus bersikap baik kepada siapapun, tidak peduli hizbullah atau hizbusy-syaitan, iman atau kafir, hak atau batil, makruf atau munkar, halal mapun haram.
Tapi yang pasti muslimah tersebut tidak pernah memahami atau bahkan menutup mata tentang konsep al wala’ wal bara’, sikap loyal, pembelaan hanya kepada Allah, Rasul dan siapapun orang beriman. Sebaliknya membenci, menolak, berlepas diri, tegas terhadap kekufuran dan siapapun pendukung kekufuran.
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) -Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.                            (QS Al Mujaadilah [58]:22 )
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.   (QS Al Fath [48]:29)
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah"… (QS Mumtahanah [60]:4)
Al wala’ wal bara’, sikap yang mustahil muncul kecuali memahami dan mengamalkan tauhid dengan benar ini, memang berat dan penuh resiko. Kebanyakan orang terutama para pejabat, tokoh dan siapapun yang lebih memilih dunia sebagai surganya pastilah tidak suka, alergi dan phobi. Lebih lebih dijaman yang sedang getol-getolnya digembar-gemborkan jargon kerukunan, persamaan, kebebasan, demokrasi, pluralisme, multikulturalisme dan seabreg tetek bengek isme-isme yang blas tidak islami sama sekali seperti sekarang ini.
Memang hidup jadi sangat riskan, repot, susah kalau menerapkan seperti Nabi Ibrahim yang menyatakan dengan tegas sikap permusuhan dan berlepas diri dengan kaumnya yang kafir sampai mereka beriman kepada Allah. Pasti banyak manusia mencibir, memusuhi bahkan oleh mereka yang KTP nya juga Islam tapi cari selamat, menggantungkan hidup pada orang kafir tidak merasa bergantung hidup kepada Allah. Padahal sikap Nabi Ibrahim yang tegas memusuhi kekafiran itu mendapat pujian, award, penghargaan bukan sekedar dari presiden, Negara maupun LSM apapun tapi dari Dzat Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT. Sebaliknya sikap Nabi Ibrahim yang memohonkan ampun dosa bapaknya yang oleh kebanyakan manusia dianggap sebagai akhlak yang baik, hormat dan bakti kepada orang tua  justru dicela oleh Allah karena mencoba merobah apa yang telah ditetapkan Allah bahwa bapaknya maupun siapapun orang kafir tidak berhak mendapat ampunan Allah, hanya boleh didoakan mendapat hidayah-Nya sebatas masih hidup.
Muslimah itupun tidak hirau alias tidak mau tahu bahwa apresiasi kepada kekafiran adalah mendukung menyuburkan kekafiran itu. Setiap kali ada orang yang mengikuti, meniru, terinspirasi untuk melakukan perbuatan maksiat kepada Allah seperti yang dilakukan oleh muslimah tersebut, maka sang muslimah akan mendapat bonus dosa akibat perannya sebagai pionir,  teladan, pendorong  kemaksiatan kepada Allah.
 Gambar yang tampak humanis di atas memang mengesankan suasana damai, rukun, toleransi dan kebersamaan antar umat beragama.  Sering disebut sebagai suasana yang kondusif  yang tentunya sangat disukai oleh para tokoh dan pemimpin bangsa maupun kebanyakan orang. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua yang menyenangkan adalah baik bagi kita, sebaliknya tidak semua yang tidak menyenangkan itu buruk bagi kita. Cobalah simak Firman dari Yang Maha Benar di QS Al Baqarah (2):16 berikut :
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
 Gambar di atas lebih tepat diberi judul “SUASANA KONDUSIF MENYONGSONG MURKA ALLAH” karena terakumulasi sekian banyak dosa akibat pelanggaran terhadap prinsip-prinsip Islam al. :
Dosa Musyrik Menuhankan Yesus :
Mengucapkan “Selamat Natal” berarti memberi selamat / mengapresiasi atas keyakinan keliru Kristen telah lahirnya “TUHAN” Yesus. Padahal Yesus jelas-jelas bukan Tuhan. Tuhan itu Maha Hidup, Maha Perkasa mustahil mati disalib, mustahil ada yang kuasa mencabut nyawaNya. Meskipun Tuhan  karena keMaha-KuasaanNYA mampu berbuat dan berkehendak apa saja termasuk reinkarnasi menjadi manusia tetapi kalau itu dilakukan akan menafikan keMaha-Sucian Tuhan ketika sebagai manusia Ia makan, minum, dst…. Kalau kelemahan manusiawi Yesus hanyalah terjadi pada sisi kemanusiaan Yesus bukan sisi keilahian Yesus maka hal itupun menafikan kekekalan Tuhan yang mewajibkan setiap saat setiap kondisi Tuhan tidak pernah lepas dari keilahianNya.
Dosa karena mengakui / ikut bergembira atas lahirnya Tuhan selain Allah SWT adalah dosa musyrik, dosa paling besar, menyebabkan terhapusnya seluruh amal shaleh yang telah kita kumpulkan sejak baligh hingga detik itu. Kalau sampai mati tidak bertobat maka dosanya tidak akan terampuni dan jahanamlah tempatnya kelak, haram bagi musyrikin masuk jannah.
Dosa Maksiat Sentuhan Lawan Jenis Bukan Mukhrim
Berjabat tangan dengan orang bukan muhrimnya berarti maksiat. Hadist Nabi mengatakan Seorang diantara kamu ditikam kepalanya dengan jarum besi lebih baik baginya daripada bersentuhan dengan laki-laki yang tidak halal  (HR Tabrani ).
Dosa Bid’ah (Mengada-ada)
Ibadah yang jelas-jelas diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya saja terkadang masih banyak terbengkelai, kenapa ikutan natal yang tidak ada tuntunannya, yang jelas jelas diluar Islam alias langkah setan yang tidak boleh diikuti, karena setan itu musuh yang nyata bagi orang beriman, lihat QS Al Baqarah (2):208.  ingatlah hadist Nabi riwayat Muslim “Barangsiapa beramal tanpa ada perintah dariku maka tertolak.” Dan takutlah akan dimina pertanggung-jawaban oleh Allah sesuai bunyi QS Al Israa’ (17):36 “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
Dosa Menyerupai Kaum Kafir
Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka termasuk golongan itu. Simak hadist ini : …Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka."  (HR Ahmad no 4868, 4869, 5409) Muslimah yang ikut/terlibat natalan berarti menyerupai kafir Kristen berarti termasuk kafir Kristen. Padahal bagi orang kafir tempatnya Neraka Jahanam dan termasuk seburuk-buruk makhluk (QS Al Bayyinah 98:6)
Natal adalah millah Kristen, millah Nasrani. Siapa yang nekad mengikuti millah mereka maka Allah berlepas diri untuk melindungi / menolongnya. Simak ayat berikut :
 Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS Al Baqarah : 120)
Dosa Pionir/ Inspirator Dosa
 Dosa-dosa muslimah tersebut bisa membengkak beranak pinak. Setiap kali siapapun melakukan perbuatan dosa karena meniru, terinspirasi, terdorong oleh perbuatan muslimah tersebut maka ia mendapat bonus dosa seperti penirunya, Semakin membudaya perbuatan tersebut semakin besuar bonus dosa dikumpulkannya.
NATAL,  PLURALISME dan PEMURTADAN
Dari sudut pandang kaum pluralis tentulah hal ini sangat menggembirakan, menunjukkan tumbuh berkembangnya kebersamaan, kerukunan dan toleransi antar umat beragama. Tidak ada ruginya umat Islam ikut natalan bahkan murtad meninggalkan agama Islam, berpindah menganut Kristen pun tidak perlu dirisaukan. Toh bukan hanya Islam yang baik dan benar. Agama-agama lain juga baik, juga benar. Semua agama meskipun dengan jalan dan cara yang berbeda-beda toh sama-sama menuju Tuhan yang sama dan juga sama-sama berhak masuk surga.
Sungguh betapa berbahayanya pandangan kaum pluralis. Demi  perdamaian, kerukunan semu  dan menyenangkan orang yang oleh Allah dicap kafir, penentang Allah dan Rasul-Nya, mereka membutakan mata, menulikan telinga, mematikan nuraninya untuk menerima ayat-ayat Allah yang dengan tegas gamblang menetapkan bahwa satu-satunya agama dari sisi Allah hanyalah Islam (QS 3:19). Satu-satunya agama yang telah sempurna dan diridloi Allah Maha Kuasa (QS 5:3) hanyalah Islam. Selain Islam tegas dikatakan sebagai langkah setan (QS 2:208), ditolak Allah dan diakherat sebagai golongan yang rugi alias penghuni neraka jahanam (QS 3:85).
Sudut pandang Islam yang menyandarkan segala sesuatu berdasar Al Qur’an dan As Sunah ternyata bertolak belakang 180 derajat dibanding sudut pandang kaum pluralis. Meskipun banyak dari mereka digelari cendekiawan muslim tetapi jauh dari nilai-nilai Islami. Mereka apriori mereferensi Al Qur’an dan As Sunah sebaliknya lebih bangga, lebih merasa hebat  kalau  menyandarkan segalanya kepada apa kata pakar barat yang terkesan lebih ilmiah padahal jauuuh dari hidayah Allah dan kafir alias musuh Allah, musuh Rasul dan musuh orang-orang mukmin. 
Menurut Islam, keterlibatan muslim dalam natal hanyalah menimbulkan  kemudlaratan luar biasa ,  Keterlibatan muslim dalam natal bisa dikatakan sebagai wujud kasih sayang , apresiasi dan dukungan terhadap kaum kafir dan kekafiran yang tentu sangat merugikan dan membahayakan akidah umat Islam. Lebih jauh bahkan bisa menjerumuskan mereka kedalam kemurtadan.  
Sms berikut adalah tanggapan dari aktifis Gereja GBI Keluarga Allah Widuran Solo atas sms  penulis yang memperingatkan agar umat Kristen tidak mengajak/ memprovokasi umat Islam ikutan natalan. Pembaca bisa menangkap sinyal yang kuat bahwa mereka memang mengakui adanya  kristenisasi / pemurtadan lewat momentum natal.
… Anda itu ya lucu kalau tidak melibatkan or. Islam kaum muslimin dan muslimat, kristenisasi bisa macet to yo. Anda juga telat ngancamnya  tak beri tahu pertengahan nov undangan dah siap, 25 nov dah disebar mulai 1 des kita tinggal follow up sj mngingatkan spy datang gtu ? anda bisa apa !
Lho natal ini sy bawa banyak anak kecil ke greja, ya anaknya ngikut ngaji tpa sih tapi pengin dapat hadiah natal. Jadi sy bilang sj kalau mau ke greja pasti dpt hadiah.…
tdk skedar nyuruh dtg aja tp kita jmput antar pulang, masih kita bri bngkisan smbako, uang dpt makan, or islam mesti mau dong?. Di greja nanti jg pujian, sukacita, saat pas untuk kristenisasi…
URGENSI MEMAHAMI KEBATILAN
Tidaklah berlebihan dan bukan pula usil mengurusi agama lain ketika penulis yang seorang muslim membeberkan aneka kebatilan natal yang mana natal telah  dimanfaatkan oleh gereja sebagai momentum dan sarana kristenisasi bahkan pemurtadan terhadap umat Islam.
Memahami kebatilan apapun termasuk kebatilan natal, diperlukan agar umat Islam mampu mewaspadai dan terhindar dari dampak buruknya. Bagi umat Kristen yang ikut membaca tulisan ini, jangan buru-buru naik pitam tetapi cobalah renungkan benar tidak isinya. Jangan sampai maunya berbakti kepada Tuhan ternyata justru membuat murka Tuhan karena justru menyelisihi kehendak bahkan melanggar larangan Tuhan. Penulis bertanggung jawab dan siap mendiskusikan / berdialog dengan siapapun terkait tulisan ini.  
Bagi setiap mukmin dan siapapun orang jujur pecinta kebenaran, mari sebarluaskan seluas-luasnya tulisan ini sebagai wujud tanggung jawab pembentengan akidah yang sangat relevan dengan tugas  mukmin sejati untuk melaksanakan  amar makruf nahi munkar (QS 3:110) , menjaga diri dan keluarga dari neraka (QS 66:6), tidak mencampuradukkan yang hak dengan yang batil (QS 2:42)

Selasa, 21 Desember 2010

Muhasabah Pagi

Tadi malam waktu akan tidur, aku lihat engkau tidak memuji Tuhan, tidak membaca Do’a, tidak sholat. Ini bagus sekali karena waktu akan tidur adalah waktu untuk tidur, bukan untuk mengingat Tuhan.
Sesungguhnya engkau tidak membuang-buang masa. Pagi ini aku lihat engkau tidak berdoa setelah bangun. Bagus sekali!!! Engkau telah membuktikan bahwa engkau adalah sahabatku yang budiman. Janganlah engkau susah-susah bangun dan memendekkan tidur. Tidurlah dengan nyenyak dan nyaman. Jangan hiraukan suara ayam berkokok yang mengejutkan engkau dari tidurmu. Bila subuh datang menjelang, udara masih dingin, tariklah selimutmu dan tidurlah sayangku seperti puteri kayangan.
Aku lihat engkau jarang-jarang mengambil air Wudhlu dan bangun tengah malam untuk bermunajat pada Tuhan. Ini bagus sekali karena engkau tidak membazirkan pikiran dan tidak mengurangi waktumu. Aku lihat engkau tak pernah mengucap do’a waktu mau makan n mengucap syukur sewaktu selesai makan. Ini bagus, karena engkau tidak memenatkan mulutmu. Dan bila sudah kenyang, engkau tak pernah menyebut “thanks God, Alhamdulillah”. Ini bagus juga..
Semalam ada seorang peminta sedekah datang ke rumahmu. Engkau menghalau dia suruh pergi tanpa engkau memberikan uang sesen ataupun seteguk air. Ini sangat bagus dan terpuji, karena engkau tidak membuang-buang uang dan tak membazirkan rezekimu yang melimpah-ruah yang diberi Tuhan kepadamu. Engkau seorang yang cerdas mengatur keuangan. Biarlah rezeki engkau untuk kegunaan engkau seorang, berholiday dan membeli kemewahan- kemewahan dunia. Aku lihat bila engkau bertemu dengan sahabat handaimu, engkau tidak mengucapkan salam. Engkau mengucapkan “What’s up brow!” Ini bagus juga karena engkau menunjukkan bahwa engkau mengerti bahasa Inggris.
Engkau telah membuktikan bahwa engkau dan aku adalah sahabat sejati. Sudah tentu engkau adalah seorang yang budiman kepada kaumku. Di akhirat nanti, engkau dan aku dapat berjalan bersama-sama … . kita berpegang-tangan … menuju Neraka. wkkk wkk hahaaaahaaaaa
NB: Jangan beritahukan surat ini pada siapapun jika kamu masih menyayangiku dan bersedia selamanya menjadi sahabatku. Kita akan hidup abadi di akhirat bersama-sama, menyelami Neraka.
TTD
Sahabatmu Yang Tercinta.
Devil from Hell

Minggu, 05 Desember 2010

Kecerdasan emosional kader dakwah

Memiliki emosional yang seimbang adalah hal yang mutlak,harus,kudu,dimiliki oleh seorang kader dakwah.Bagaimana tidak,ketika urusan yang satu belum selesai,hal lain harus dipikirkan dan dikerjakan untuk segera diselesaikan,sementara hak pribadi sering kali terabaikan.Belum lagi agenda-agenda dakwah yang acap kali menyita focus dan energi yg besar.Ditambah lagi perhatian terhadap saudara-saudara disekitar yang secara tidak langsung terkadang “menuntut” untuk didengarkan,dipahami dan dimengerti.Sementara masalah-masalah pribadi meminta jatah waktu untuk menenangkan diri dan meredakan hati sejenak ditengah “eforia” amanah.

Ya…beginilah dakwah mengajarkan kita.Semua proses yang dilalui adalah pendewasaan diri,Ketika yang lain menuntut,kita memberi.Bukankah dakwah adalah cinta?dan cinta akan meminta semuanya dari diri kita.Bukankah fitrahnya manusia rela memberikan apa saja untuk sesuatu yang dicintainya?maka sudah selayaknya kita menjadikan aktivitas dakwah sebagai sesuatu yang “berhak untuk dicintai” demi menggapai cinta yang hakiki,cinta dan ridhonya Allah Swt.Maka tak heran jika diperhatikan lebih mendalam,aktivis dakwah lebih cepat dewasa daripada umurnya (tanya kenapa??)

Sejatinya seorang kader dakwah tidak lagi hanya memikirkan hal-hal yang kecil,hal-hal yang biasa.Tapi pikirannya telah terisi dengan hal-hal besar yang luar biasa dan itu menjadi hal yang sudah biasa baginya.Ibarat sebuah mangkuk yang jika diisi dengan batu-batu besar,secara otomatis bulir-bulit pasir masih bisa nyelip diantara batu-batu besar tersebut.Tapi jika mangkuk tersebut sudah diisi dengan pasir terlebih dahulu,batu-batu besar tidak akan muat karena sudah dipenuhi oleh pasir.Begitu juga dengan tantangan yang dihadapi dalam perjalanan dakwah,jika kita sudah terbiasa menyelesaikan persoalan ummat yang besar ini,maka masalah-masalah kecil di dalam kehidupan InsyaAllah menjadi biasa dan bisa kita hadapi dengan baik.

Berbeda dengan orang-orang yang hanya berpikir dan bertindak untuk dirinya sendiri,Ia tidak akan menyadari bahwa dirinya bisa berbuat lebih,bahkan untuk kemaslahatan banyak orang.Ia tidak pernah memposisikan dirinya sebagai mangkuk yang ternyata juga bisa menampung batu besar ditengah buliran-buliran pasir tadi.Bukankah kekuatan tindakan dipengaruhi oleh kekuatan pikiran?Jika kita berpikir bisa untuk menyelesaikan suatu persoalan,maka itulah yang akan terjadi karena sejatinya kita adalah apa yang kita pikirkan.Seharusnya begitu juga dalam aktivitas dakwah,tidak ada  dalam kamus seorang aktivis dakwah perkataan
 “ana tidak sanggup”, “ana tidak bisa,afwan mungkin yang lain saja yang mengerjakan”.Atau malah “afwan,banyak deadline kuliah yang harus diclearkan,ana lagi banyak masalah,jangan ganggu ana dulu ya,ana butuh waktu untuk diri ana sendiri” .Bayangkan saudaraku,jika kebanyakan kader dakwah berpikiran seperti itu,siapakah yang akan meredakan keluhan ummat???

Maka,memiliki kestabilan emosi yang baik dalam keadaan apapun menjadi hal yang mutlak untuk dimiliki setiap kader dakwah.Sebanyak dan serumit apapun masalah yang dihadapi seharusnya tidak lantas menjadikan kita menyerah dengan keadaan,apalagi merasa pantas untuk mengambil “cuti sementara” dari segala aktivitas dakwah karena dakwah bukanlah pekerjaan yang dilakukan jika kita suka,jika kita mau.Rasulullah SAW berjuang lebih dari 20 tahun untuk menyampaikan dakwah dengan perjuangan dan tantangan yang luar biasa.Memulainya semuanya dari Nol besar.Begitu juga ketika mulai dirintisnya dakwah kampus ini,bukan hal yang mudah.Sementara kita adalah orang-orang yang “menikmati” buah dari perjuangan yang luar biasa.

Maka pantaskah kita berpikir dan melakukan hal-hal yang biasa saja untuk mengurangi beban dakwah yang ada?pantaskah kita menghindar dan mengeluh menjalankan amanah dakwah yang belum seberapa?Bukankah kita adalah nahnu dhu’at qobla kulli syaiin(kita adalah dai sebelum menjadi siapapun)?Maka sudah menjadi sebuah keharusan bagi kita sebagai seorang kader dakwah untuk senantiasa mempunyai ruhul istijabah yang tinggi di setiap seruan dakwah dalam keadaan apapun.Semoga Allah senantiasa mengekalkan azam kita untuk tetap istiqamah hingga akhir hayat dan menjadikan kita bagian dari orang-orang yang selalu harap perjumpaan denganNya.Wallahualam bissawab.Hasbunallah wa nikmal wakiil,nikmal maula wa nikman nashiir. (Untuk saudara-saudariku yang luar biasa dari orang yang biasa-biasa saja,ditulis sebagai refleksi bagi diri sendiri.)